Harga & Pendapatan6 menit baca

Cara Menghitung Bagi Hasil Investor dan Mitra Usaha Salon

Bagi hasil dari omzet atau laba, gaji pengelola, dana cadangan, kerugian, balik modal investor, dan contoh hitungan satu bulan.

Poin Penting

  • Hitung bagi hasil dari laba bersih, bukan omzet, kecuali untuk pihak yang tidak ikut menanggung biaya seperti pemilik tempat.
  • Gaji pengelola dibayar lebih dulu sebagai biaya. Bagian laba adalah tambahan, bukan pengganti gaji.
  • Tulis daftar biaya yang boleh dikurangkan, dan batas belanja yang perlu persetujuan kedua pihak.
  • Sisihkan dana cadangan sebelum laba dibagi, dan tutup kerugian bulan sebelumnya sebelum ada pembagian baru.
  • Sepakati sejak awal jadwal laporan, persentase setelah modal investor kembali, dan cara keluar bila salah satu mitra berhenti.

60:40

Contoh pembagian laba investor dan pengelola, setelah gaji pengelola dan cadangan (ilustrasi)

10%

Contoh dana cadangan yang disisihkan dari laba sebelum dibagi

Rp9,18 juta

Bagian investor dari laba Rp 17 juta pada omzet Rp 60 juta (ilustrasi)

Bagi hasil usaha salon paling aman dihitung dari laba bersih, bukan dari omzet, dengan gaji pengelola dibayar lebih dulu sebagai biaya. Urutannya: omzet dikurangi bahan, komisi stylist, sewa, listrik dan air, biaya pembayaran digital, gaji pengelola, dan kebutuhan lain. Sisihkan dana cadangan. Sisanya dibagi sesuai persentase di perjanjian, misalnya 60 persen untuk investor dan 40 persen untuk mitra pengelola. Semua angka di halaman ini adalah ilustrasi, bukan patokan.

Bagi hasil investor salon dari omzet terlihat lebih sederhana, dan sering diminta investor karena angkanya sulit diutak-atik. Masalahnya, biaya tetap tidak ikut turun ketika omzet turun. Pada bulan sepi, potongan 15 persen omzet bisa menghabiskan hampir seluruh laba, dan pengelola bekerja tanpa hasil. Skema omzet masuk akal untuk pihak yang tidak menanggung biaya, misalnya pemilik tempat yang menerima persentase sebagai pengganti sewa.

Contoh Hitungan Satu Bulan

Salon lima stylist dengan omzet Rp 60 juta. Bahan 12 persen (Rp 7,2 juta), komisi stylist 35 persen (Rp 21 juta), sewa Rp 5 juta, listrik dan air Rp 2,5 juta, biaya pembayaran digital Rp 500.000, gaji pengelola Rp 5 juta, kebutuhan lain Rp 1,8 juta. Total biaya Rp 43 juta, laba Rp 17 juta. Cadangan 10 persen (Rp 1,7 juta) disimpan. Rp 15,3 juta dibagi: investor Rp 9,18 juta, pengelola Rp 6,12 juta di luar gajinya.

Bila omzet turun ke Rp 40 juta, laba tinggal sekitar Rp 6,5 juta. Skema 15 persen omzet tetap membayar investor Rp 6 juta dan menyisakan Rp 500.000. Skema laba membagi sisa setelah cadangan: investor sekitar Rp 3,5 juta, pengelola sekitar Rp 2,3 juta. Keduanya ikut menanggung bulan sepi.

Syaratnya: Angka yang Dipercaya Kedua Pihak

Skema laba hanya berjalan bila investor percaya pada angka biayanya. Pisahkan rekening usaha dari rekening pribadi, dan kirim laporan pada tanggal yang sama setiap bulan. Formatnya ada di laporan laba rugi salon sederhana. Di Keuangan Kasera, yang tersedia di paket Professional dan Flagship, pengeluaran dicatat per kategori dan Laba Rugi bulanan menghitung laba bersih dari pendapatan, biaya pembayaran, komisi, dan pengeluaran, sehingga investor dan pengelola membaca angka yang sama.

Cara Kerja

1

Catat Siapa Menyetor Apa

Investor menyetor uang. Mitra pengelola menyetor waktu, keahlian, dan sering kali pelanggan yang sudah ikut bertahun-tahun. Tulis nilai setoran uang masing-masing dan peran setiap orang. Bila keduanya menyetor modal, misalnya Rp 120 juta dan Rp 30 juta, porsi modal 80:20 menjadi titik awal, lalu pengelola mendapat tambahan porsi untuk kerjanya. Kebutuhan modalnya dihitung per pos di modal usaha salon kecantikan.

2

Bayar Pengelola Sebagai Biaya

Gaji pengelola ditetapkan setara gaji manajer salon di daerah itu dan dibayar setiap bulan, untung atau rugi. Bagian laba datang setelahnya. Tanpa gaji ini, pengelola bekerja gratis di bulan rugi dan mulai mencari pekerjaan lain, padahal salon bergantung padanya. Bila pengelola juga melayani pelanggan, komisinya dihitung seperti stylist lain.

3

Tulis Daftar Biaya yang Boleh Dikurangkan

Masukkan bahan, komisi, gaji, sewa, listrik, air, internet, biaya pembayaran digital, perbaikan alat, dan anggaran promosi yang disepakati. Keluarkan semua pengeluaran pribadi. Tetapkan batas, misalnya pembelian di atas Rp 2 juta harus disetujui kedua pihak. Disiplin ini dimulai dari memisahkan uang pribadi dan uang usaha.

4

Atur Cadangan dan Kerugian

Sisihkan 10 persen laba sebagai cadangan sampai jumlahnya setara satu bulan biaya operasional, lalu hentikan. Cadangan dipakai untuk pompa kursi yang rusak, pemanas air, atau bulan sepi. Bila satu bulan rugi, kerugiannya ditutup dari laba bulan berikutnya sebelum ada pembagian. Tanpa aturan ini, investor menerima bagian di bulan untung tetapi tidak ikut menanggung bulan rugi.

5

Sepakati Jadwal, Balik Modal, dan Jalan Keluar

Contoh jadwal: laporan dikirim tanggal 5, transfer bagi hasil tanggal 10. Sebagian perjanjian memberi investor 70 persen sampai modalnya kembali, lalu turun ke 50 persen. Tulis juga cara keluar: harga beli bagian mitra yang mundur dihitung dari nilai alat ditambah rata-rata laba beberapa bulan terakhir, dan mitra yang tersisa mendapat hak membeli lebih dulu. Pilihan badan usahanya dibandingkan di usaha perorangan vs PT perorangan.

Contoh Skenario

“

Stylist senior dengan modal dari keluarga

Kakak menyetor Rp 120 juta, stylist mengelola salon. Kesepakatan awal hanya lisan: dibagi dua dari omzet. Tiga bulan pertama salon rugi, tetapi kakak tetap menanyakan bagiannya dan kapan modalnya kembali.

Ubah ke perjanjian tertulis berbasis laba. Stylist menerima gaji pengelola, investor menerima 70 persen laba sampai Rp 120 juta kembali, lalu 50 persen. Laporan bulanan memperlihatkan kapan salon mulai untung, sehingga pertanyaan soal balik modal dijawab dengan angka.

“

Pemilik ruko yang menawarkan tempat tanpa sewa

Pemilik ruko meminta 10 persen omzet sebagai ganti sewa. Pada omzet Rp 60 juta, salon membayar Rp 6 juta, lebih mahal dari sewa pasar Rp 5 juta untuk ruko itu.

Skema omzet wajar untuk pemilik tempat karena ia tidak ikut menanggung biaya lain. Pasang batas bawah dan batas atas, misalnya 10 persen omzet dengan minimal Rp 3,5 juta dan maksimal Rp 5,5 juta per bulan. Pemilik tempat tetap aman di bulan sepi, dan salon tidak membayar jauh di atas harga sewa saat ramai.

“

Pemilik salon yang membuka cabang bersama mitra lokal

Mitra lokal menyetor separuh modal cabang dan ingin bagian dari laba. Biaya bersama seperti pelatihan, promosi, dan pembelian bahan grosir dibayar dari salon pertama, sehingga laba cabang terlihat lebih besar dari kenyataannya.

Hitung laba per cabang, lalu bebankan biaya bersama dengan rumus yang disepakati, misalnya sesuai porsi omzet tiap cabang. Bagi hasil mitra hanya dari laba cabangnya sendiri. Persiapan cabangnya dibahas di cara buka cabang salon.

Pertanyaan Umum

Siap modernisasi salon?

Bergabung dengan salon dan barbershop di Indonesia yang berkembang bersama Kasera.

Gratis 14 hari. Tanpa kartu kredit.