Kasbon Karyawan Salon: Aturan Pinjaman yang Tidak Merusak Kas
Batas kasbon per orang, cara mencatat dan memotongnya dari gaji, dan permintaan yang sebaiknya ditolak.
Tim Kasera
26 September 2026
Poin Penting
- Pisahkan dua jenis kasbon: uang muka dari upah yang sudah dikerjakan, dan pinjaman di atas itu. Aturannya berbeda.
- Batas uang muka adalah komisi dan upah yang sudah terkumpul bulan berjalan. Batas pinjaman satu kali gaji pokok, dicicil paling lama tiga kali gajian.
- Total potongan per gajian menurut peraturan pengupahan paling banyak 50% dari upah yang dibayarkan. Dalam praktik, jaga cicilan di bawah seperempat gaji bersih.
- Setiap kasbon memakai slip bernomor yang ditandatangani kedua pihak, dan uangnya tidak pernah diambil dari laci kasir tanpa slip.
- Kasbon bukan pengeluaran. Catat gaji penuh di kategori gaji saat gajian, jangan catat kasbonnya sebagai biaya.
- Tolak kasbon kedua sebelum yang pertama lunas, kasbon di masa percobaan, dan permintaan yang berulang setiap minggu.
Kasbon karyawan salon boleh diberikan, asalkan aturannya ditetapkan sebelum permintaan pertama datang, bukan saat stylist sudah berdiri di depan kasir dengan alasan mendesak. Aturan yang cukup hanya empat. Batas jumlah per orang. Jadwal potongan yang tertulis. Satu kasbon aktif per orang. Dan slip yang ditandatangani untuk setiap rupiah yang keluar. Tanpa keempatnya, kasbon berubah menjadi selisih kas yang tidak bisa dijelaskan, perdebatan di hari gajian, dan saldo yang hilang ketika karyawannya keluar.
Dua Jenis Kasbon, Dua Aturan
Kebanyakan salon mencampur dua hal yang berbeda di bawah satu kata. Yang pertama adalah uang muka upah: karyawan meminta sebagian uang yang sebenarnya sudah dia hasilkan bulan ini, misalnya komisi dari layanan yang sudah dikerjakan sejak tanggal satu. Risikonya kecil, karena uangnya memang miliknya dan tinggal dipotong dari gajian yang sama.
Yang kedua adalah pinjaman karyawan salon dalam arti sebenarnya: jumlah yang lebih besar daripada upah yang sudah dikerjakan, dan harus dicicil dari beberapa gajian ke depan. Di sini salon menanggung risiko, karena karyawan bisa keluar sebelum lunas.
Pisahkan keduanya di aturan dan di catatan. Uang muka boleh diberikan cukup longgar, pinjaman tidak.
Menetapkan Batasnya
Batas uang muka paling mudah dijaga bila angkanya bisa diperiksa, bukan dikira. Untuk stylist dengan komisi, angkanya adalah komisi yang sudah terkumpul sejak awal periode. Di Kasera, komisi stylist tercatat per layanan dan terkumpul sepanjang bulan, sehingga stylist yang meminta Rp 800.000 pada tanggal 18 bisa ditunjukkan langsung bahwa komisinya baru Rp 650.000. Untuk karyawan bergaji tetap, pakai upah harian dikali hari kerja yang sudah berjalan.
Batas pinjaman sebaiknya satu kali gaji pokok, dicicil paling lama tiga kali gajian. Contoh: gaji pokok Rp 2.500.000, pinjaman Rp 1.500.000, cicilan Rp 500.000 selama tiga bulan. Peraturan pengupahan (PP 36 Tahun 2021) membatasi total potongan paling banyak 50% dari setiap pembayaran upah, dan potongan untuk utang karyawan perlu didasari kesepakatan tertulis. Batas 50% itu adalah batas hukum, bukan batas yang sehat. Karyawan yang membawa pulang separuh gaji hampir pasti meminta kasbon baru minggu berikutnya. Jaga cicilan di bawah seperempat gaji bersih.
Tetapkan juga batas untuk salon, bukan hanya per orang. Salon dengan lima karyawan bisa memutuskan total kasbon yang beredar tidak lebih dari Rp 3.000.000. Permintaan yang melewati batas itu menunggu sampai ada yang lunas, siapa pun yang meminta.
Mencatat Tanpa Celah
Setiap kasbon memakai slip bernomor urut: nama, tanggal, jumlah, jenis (uang muka atau pinjaman), jadwal potongan, lalu tanda tangan karyawan dan pemilik atau kepala salon. Slip disimpan di satu map, dan satu lembar rekap memuat sisa saldo tiap orang setelah setiap gajian. Tampilkan sisa saldo itu di slip gaji, supaya karyawan tidak perlu bertanya dan tidak ada angka yang diperdebatkan di bulan ketiga.
Uangnya sebaiknya tidak diambil dari laci kasir. Laci kasir dihitung setiap tutup toko, dan uang yang keluar tanpa transaksi akan muncul sebagai selisih. Siapkan pos kasbon terpisah dengan saldo yang ditentukan di awal bulan, seperti kas kecil. Bila keadaan memaksa uang diambil dari laci, slipnya masuk ke laci menggantikan uang itu dan dicatat saat penutupan kas. Cara memisahkan uang kembalian, kas kecil, dan pendapatan diuraikan di mengelola kas kecil salon.
Kasbon Bukan Pengeluaran
Kesalahan pembukuan yang paling sering: kasbon dicatat sebagai biaya ketika diberikan, lalu gaji bersih dicatat lagi ketika gajian. Uang yang sama terhitung dua kali, dan laba bulan itu tampak lebih kecil daripada kenyataannya.
Kasbon adalah piutang, uang salon yang sedang dipegang karyawan. Di Keuangan Kasera, catat gaji pokok penuh di kategori Gaji pada tanggal gajian, bukan jumlah bersih yang diterima setelah dipotong kasbon. Kasbonnya sendiri tidak dicatat sebagai pengeluaran. Hanya kasbon yang dipastikan tidak akan kembali, misalnya karena karyawannya keluar dan saldo diputuskan dihapus, yang dicatat sebagai pengeluaran di kategori Lainnya pada tanggal keputusan itu. Susunan gaji pokok, komisi, dan potongan dalam satu slip dibahas di cara menghitung gaji dan komisi salon.
Permintaan yang Sebaiknya Ditolak
Kasbon kedua sebelum yang pertama lunas. Kasbon selama masa percobaan, ketika hubungan kerja belum pasti. Jumlah di atas batas, apa pun alasannya. Dan permintaan yang datang setiap minggu.
Yang terakhir perlu dibaca sebagai tanda, bukan hanya ditolak. Stylist yang meminta uang muka setiap minggu sering kehabisan uang karena komisinya dibayar sebulan sekali sementara pengeluarannya harian. Membayar komisi dua kali sebulan bisa menyelesaikan masalah itu lebih baik daripada kasbon yang terus berulang.
Keadaan darurat yang sungguhan, seperti anggota keluarga sakit atau meninggal, lebih baik dijawab dengan bantuan yang tidak perlu dikembalikan, dalam jumlah yang ditetapkan di awal tahun. Menjadikan musibah sebagai utang membuat karyawan membayarnya dua kali.
Permintaan juga menumpuk menjelang Lebaran. Salon yang menyisihkan dana tunjangan hari raya setiap bulan dan membayarnya tepat waktu menerima jauh lebih sedikit permintaan di bulan itu, dan hitungannya ada di THR karyawan salon.
Tim Kasera
Kasera membantu pemilik salon, barbershop, dan spa di Indonesia mengelola bisnis mereka dengan lebih efisien.