Memahami Pelanggan Gen Z: Apa yang Mereka Cari di Salon
Cara Gen Z memilih salon berbeda dari generasi sebelumnya. Berikut yang mereka cari dan langkah menyesuaikan booking, pembayaran, dan promosi.
Tim Kasera
Poin Penting
- Gen Z ingin memesan sendiri lewat link, bukan menelepon. Sediakan booking online yang mudah diakses dari media sosial.
- Mereka riset di Instagram, TikTok, dan ulasan Google sebelum datang, jadi portofolio dan rating jadi saluran discovery utama.
- Pembayaran non-tunai lewat QRIS dan e-wallet hampir wajib, karena banyak dari mereka jarang membawa uang tunai.
- Harga yang transparan membuat mereka nyaman memesan; harga yang disembunyikan membuat sebagian mundur diam-diam.
- Loyalitas datang dari pengalaman yang konsisten dan rekomendasi antar teman, bukan sekadar diskon sesaat.
Gen Z, kelompok yang lahir sekitar akhir 1990-an sampai awal 2010-an, kini mengisi sebagian besar kursi salon di kota. Cara mereka memilih tempat perawatan berbeda dari pelanggan yang lebih tua. Mereka jarang menelepon, riset dulu sebelum datang, dan hampir tidak membawa uang tunai. Salon yang masih mengandalkan telepon, tanya harga di tempat, dan bayar tunai akan terasa merepotkan bagi mereka, sekalipun hasil potongannya bagus. Artikel ini merinci apa yang benar-benar dicari pelanggan Gen Z dan langkah konkret menyesuaikannya, bukan sekadar ikut istilah anak muda.
Hal pertama: mereka ingin memesan sendiri, tanpa menelepon. Bagi banyak Gen Z, menelepon salon terasa canggung, apalagi hanya untuk menanyakan slot kosong. Mereka lebih nyaman membuka link, memilih layanan dan jam, lalu selesai dalam beberapa ketukan. Menyediakan booking online yang bisa diakses dari Instagram atau WhatsApp menghapus hambatan pertama ini. Setelah datang sekali, portal pelanggan membuat mereka bisa memesan ulang dengan stylist yang sama tanpa mengulang penjelasan dari awal.
Kedua, mereka riset sebelum memutuskan. Sebelum memesan, Gen Z membuka Instagram dan TikTok untuk melihat hasil kerja, lalu mengecek rating dan ulasan di Google. Foto hasil yang jujur dan konsisten lebih meyakinkan daripada klaim di caption. Salon yang rutin memposting hasil potongan, pewarnaan, atau perawatan membangun rasa percaya jauh sebelum calon pelanggan datang. Konten promosi di TikTok dan kebiasaan mengumpulkan ulasan positif di Google jadi dua saluran discovery yang paling menentukan untuk segmen ini.
Ketiga, mereka membayar tanpa uang tunai. Banyak Gen Z hanya membawa ponsel, mengandalkan QRIS dan e-wallet seperti GoPay, OVO, atau DANA. Salon yang hanya menerima tunai atau transfer manual menciptakan momen canggung di akhir kunjungan, tepat saat kesan terakhir terbentuk. Menerima pembayaran QRIS membuat proses bayar selesai dengan satu kali scan, tanpa mencari kembalian atau menunggu verifikasi transfer. Kemudahan di titik ini sering luput diperhatikan, padahal ikut menentukan apakah pelanggan mau kembali.
Keempat, mereka menghargai harga yang transparan. Gen Z cenderung enggan bertanya harga secara langsung dan tidak suka kejutan di kasir. Menu layanan dengan harga yang jelas, baik di halaman booking maupun di feed media sosial, membuat mereka lebih tenang memesan. Harga yang disembunyikan dengan alasan tergantung kondisi justru membuat sebagian dari mereka mundur diam-diam dan mencari tempat lain yang lebih terbuka.
Kelima, mereka loyal pada pengalaman, bukan sekadar diskon. Diskon menarik mereka datang sekali, tapi yang membuat kembali adalah hasil yang konsisten, stylist yang mengingat preferensi, dan suasana yang nyaman untuk difoto. Gen Z juga kuat dalam merekomendasikan tempat ke teman sebaya. Program poin atau ajak teman yang sederhana bisa mengubah satu pelanggan puas menjadi beberapa. Sama pentingnya, mereka tidak segan menulis ulasan, baik yang memuji maupun yang mengkritik, jadi pengalaman buruk bisa cepat tersebar. Menanggapi keluhan dengan cepat dan sopan sama berharganya dengan menarik pelanggan baru.
Keenam, mereka menghargai rekomendasi yang jujur, bukan rayuan penjualan. Menawarkan layanan tambahan tetap boleh, asalkan relevan dengan kebutuhan mereka dan dijelaskan alasannya. Dorongan membeli yang terlalu agresif justru membuat mereka menutup diri dan enggan kembali. Cara paling efektif menarik pelanggan muda bukan diskon besar sesaat, melainkan pengalaman yang terasa dipikirkan untuk mereka: konfirmasi booking yang cepat, pengingat sebelum jadwal, dan stylist yang menjelaskan pilihan tanpa memaksa. Detail kecil seperti ini yang membedakan salon yang mereka rekomendasikan ke teman dari yang mereka lupakan setelah satu kunjungan.
Ada juga sisi yang khas dari generasi ini: hasil perawatan sering berakhir di media sosial. Warna rambut yang sedang tren, gaya potongan tertentu, atau hasil nail art yang rapi bukan hanya soal penampilan, tapi juga konten yang mereka bagikan. Salon yang mengikuti perkembangan gaya dan menyediakan sudut yang layak difoto memberi nilai tambah tanpa biaya besar. Setiap unggahan pelanggan berfungsi sebagai rekomendasi organik ke lingkaran teman sebaya, yang sering lebih dipercaya daripada iklan berbayar.
Menyesuaikan salon untuk Gen Z tidak berarti merombak semuanya. Mulai dari tiga hal yang paling terasa: booking yang bisa dilakukan sendiri, pembayaran non-tunai, dan harga yang terbuka. Tiga langkah ini menghapus gesekan terbesar dalam satu kunjungan. Setelah itu, konsistensi hasil dan kehadiran di media sosial yang menjaga mereka tetap datang. Generasi ini akan jadi mayoritas pelanggan salon dalam beberapa tahun ke depan, jadi menyesuaikan sekarang lebih murah daripada mengejar ketinggalan nanti. Tidak perlu langsung sempurna: pilih satu perubahan yang paling terasa, ukur dampaknya pada jumlah booking dan ulasan, lalu lanjut ke perubahan berikutnya.
Tim Kasera
Kasera membantu pemilik salon, barbershop, dan spa di Indonesia mengelola bisnis mereka dengan lebih efisien.