Operasional8 menit baca

Cara Meningkatkan Efisiensi Operasional Salon

Cara menghitung kapasitas terpakai salon, menemukan empat sumber jam kerja yang hilang, dan menutupnya tanpa mempercepat layanan.

Poin Penting

  • Efisiensi salon punya satu angka: jam kursi yang terjual dibagi jam kursi yang tersedia.
  • Jam yang hilang selalu berada di empat tempat: jeda, durasi menu yang meleset, jadwal orang, dan administrasi.
  • Ukur dulu selama satu minggu dengan kertas kalau perlu, karena angka kasar mengalahkan tebakan yang rapi.
  • Kapasitas terpakai dibaca berpasangan dengan pendapatan per jam kursi, tidak pernah sendirian.
  • Perbaikannya menyasar menit kosong di antara layanan, bukan menit yang dipakai mengerjakan layanan.

702 jam

Jam kursi tersedia sebulan untuk tiga stylist, sembilan jam sehari, 26 hari buka

10 poin

Kenaikan kapasitas terpakai yang setara dengan sekitar 70 jam layanan tambahan

Efisiensi operasional salon paling mudah diukur lewat satu angka: berapa persen jam kursi yang tersedia benar-benar terjual sebagai layanan.

Hitungannya sederhana. Salon dengan tiga stylist, buka sembilan jam sehari, dua puluh enam hari sebulan, punya 702 jam kursi. Kalau layanan yang tercatat bulan itu berjumlah 280 jam, kapasitas terpakainya 40 persen. Sisa 422 jam tetap dibayar lewat gaji, sewa tempat, dan listrik.

Angka itu disebut kapasitas terpakai. Fungsinya mengubah pertanyaan yang samar, seperti cara kelola salon lebih efisien, menjadi pertanyaan yang bisa dijawab: 422 jam tadi hilang ke mana.

Jawabannya hampir selalu terbagi ke empat tempat. Jeda antar pelanggan yang tidak pernah terisi. Durasi layanan yang meleset dari yang tertulis di menu. Jumlah orang bertugas yang tidak mengikuti kurva permintaan, sehingga Sabtu kewalahan sementara Selasa menganggur. Pekerjaan administrasi yang memakan jam produktif stylist.

Tidak satu pun dari keempatnya diperbaiki dengan mempercepat pekerjaan stylist. Layanan yang dikerjakan terburu-buru berakhir sebagai pengulangan gratis, dan pengulangan membayar biaya penuh dua kali. Optimasi jadwal salon yang berhasil justru terlihat tenang dari luar: pelanggan berikutnya sudah siap ketika kursi kosong.

Kenaikan sepuluh poin pada angka itu, dari 40 ke 50 persen, berarti sekitar 70 jam layanan tambahan sebulan tanpa menambah orang, menambah sewa, atau menaikkan harga. Karena itu angka ini dihitung lebih dulu, sebelum keputusan besar apa pun diambil.

Panduan ini menghitung angka dasarnya, membedah keempat kebocoran satu per satu, lalu menetapkan target yang masuk akal. Untuk operasional barbershop yang sebagian besar walk-in, rumusnya sama dan yang berbeda hanya cara mengisi jam kosongnya. Sumber angkanya ada di catatan durasi dan jumlah layanan per stylist, bukan di perasaan tentang hari yang terasa ramai.

Cara Kerja

1

Hitung jam kursi yang tersedia sebulan

Kalikan jumlah stylist yang melayani dengan jam buka per hari dan jumlah hari buka. Tiga stylist, sembilan jam, 26 hari menghasilkan 702 jam. Pakai jam kerja yang sebenarnya, bukan jam buka di pintu. Kalau satu stylist masuk pukul sebelas pada hari kerja, jamnya dihitung sejak pukul sebelas. Kurangi juga hari libur dan cuti yang sudah pasti. Angka yang dibesar-besarkan di langkah pertama hanya membuat hasil akhirnya terlihat lebih buruk daripada kenyataan, dan perbaikannya jadi salah sasaran.

2

Hitung jam yang benar-benar terjual

Jumlahkan durasi seluruh layanan yang dikerjakan bulan itu, memakai durasi nyata dari jam mulai sampai jam selesai. Bagi hasilnya dengan kapasitas tadi, lalu kalikan seratus. Itulah kapasitas terpakai salon. Kalau pencatatan masih di buku, satu minggu sudah cukup untuk memulai: tulis jam mulai dan jam selesai setiap pelanggan di setiap kursi, lalu kalikan empat. Hasil satu minggu tidak sempurna, tetapi jauh lebih berguna daripada menunggu sistem lengkap sambil menebak.

3

Pisahkan jam yang hilang ke empat kategori

Ukur satu per satu, karena tiap kategori punya perbaikan yang berbeda. Jeda antar pelanggan terbaca dari selisih jam selesai satu pelanggan dengan jam mulai pelanggan berikutnya di kursi yang sama. Selisih durasi terbaca dari perbandingan durasi nyata dengan durasi yang tertulis di menu, per jenis layanan, seperti diuraikan di cara menentukan durasi layanan. Ketidakcocokan kurva permintaan terbaca dari jam terjual per hari dalam seminggu. Waktu administrasi terbaca dari catatan sederhana: berapa kali stylist meninggalkan kursi untuk membalas pesan, menerima telepon, atau mencari stok.

4

Tutup jeda dan perbaiki durasi di menu

Jeda lima belas menit yang terjadi enam kali sehari adalah satu setengah jam kursi yang hilang tanpa pernah muncul di laporan mana pun. Perkecil satuan slot pemesanan menjadi lima belas menit supaya potongan waktu kecil masih bisa diisi. Tulis ulang durasi menu sebagai rata-rata nyata ditambah waktu merapikan kursi, bukan angka yang enak dibaca pelanggan. Siapkan bahan sebelum pelanggan duduk, bukan sesudahnya. Pindahkan konfirmasi dan pengingat ke sistem supaya tidak dikerjakan stylist di sela layanan, lalu tawarkan pemesanan kunjungan berikutnya saat pelanggan membayar, ketika perhatiannya masih ada.

5

Sesuaikan jumlah orang dengan permintaan, lalu ukur ulang

Permintaan salon tidak rata, jadi jadwal yang rata selalu salah di dua arah sekaligus. Geser shift supaya jumlah orang terbanyak berada di jam paling ramai, dan kurangi orang di hari paling sepi tanpa harus menutup salon; caranya dibahas di penyusunan jadwal shift stylist. Pakai hari sepi untuk stok opname, pelatihan, dan menghubungi pelanggan lama. Isi sisa jam dengan walk-in memakai urutan giliran yang jelas seperti pada pengelolaan waitlist. Ukur ulang setiap bulan dengan cara yang persis sama, karena yang dinilai arahnya, bukan satu angkanya.

Contoh Skenario

Pemilik salon dengan tiga kursi

Salonnya terasa sibuk setiap hari dan stylist mengeluh kelelahan, tetapi pendapatan bulanannya tidak bergerak selama enam bulan.

Setelah satu minggu mencatat jam mulai dan jam selesai, terlihat kapasitas terpakainya 38 persen sementara jeda rata-rata antar pelanggan mencapai 22 menit. Pemilik memperkecil satuan slot menjadi lima belas menit, memindahkan penyiapan bahan ke sebelum pelanggan duduk, dan memindahkan konfirmasi pemesanan ke pengingat sistem. Rasa sibuknya berkurang justru ketika jumlah layanan bertambah, karena yang hilang selama ini adalah waktu berpindah, bukan waktu bekerja.

Pemilik barbershop yang mengandalkan walk-in

Sabtu selalu penuh sampai ada yang pulang tanpa dilayani, sedangkan Selasa sampai Kamis dua kursi kosong hampir sepanjang hari.

Jam terjual dihitung per hari, bukan per bulan, dan hasilnya menunjukkan Sabtu terpakai 82 persen sementara Rabu hanya 21 persen. Jadwal barber digeser: tiga orang bertugas Jumat sampai Minggu, dua orang pada hari kerja, dan libur mingguan dipindahkan ke Rabu. Kapasitas hari kerja mengecil sehingga persentasenya naik, dan kapasitas akhir pekan bertambah tepat di jam yang selama ini menolak pelanggan.

Manajer salon dengan lima stylist

Menu menuliskan pewarnaan 90 menit, tetapi pekerjaannya hampir selalu selesai di menit ke-120, sehingga pemesanan sesudahnya selalu mundur dan hari itu berakhir kacau.

Manajer membandingkan durasi nyata dengan durasi menu selama satu bulan, lalu menuliskan ulang durasi pewarnaan menjadi 120 menit ditambah sepuluh menit merapikan kursi. Jumlah slot pewarnaan per hari berkurang satu, tetapi keterlambatan berantai hilang dan layanan cepat seperti potong rambut bisa dipasang di celah yang tersisa. Pendapatan per jam kursi naik karena jam yang dulu terpakai mengejar keterlambatan sekarang terjual.

Pertanyaan Umum

Siap modernisasi salon?

Bergabung dengan salon dan barbershop di Indonesia yang berkembang bersama Kasera.

Gratis 14 hari. Tanpa kartu kredit.