Industri3 menit baca

Tren Men's Grooming di Indonesia: Peluang untuk Barbershop dan Salon

Bagaimana meningkatnya kesadaran grooming di kalangan pria Indonesia menciptakan peluang baru untuk barbershop dan salon.

Tim Kasera

Poin Penting

  • Pasar grooming pria bergeser dari potong murah ke pengalaman rutin yang bernilai lebih, dari perawatan jenggot sampai coloring uban.
  • Jangan bersaing di harga. Pelanggan pria loyal pada konsistensi barber dan pengalaman, bukan diskon.
  • Frekuensi kunjungan yang tinggi, sering tiap 2-3 minggu, membuat retensi lebih menguntungkan daripada terus mengejar pelanggan baru.
  • Mulai tambah layanan dari paket potong plus jenggot, lalu naik ke layanan bermargin lebih tinggi berdasarkan data permintaan.
  • Manfaatkan booking online dan konten media sosial untuk menjaga kunjungan berulang dan membangun brand yang diingat.

Pria Indonesia semakin serius soal penampilan. Potong rambut bukan lagi urusan sebulan sekali di tukang cukur langganan, tapi rutinitas dua sampai tiga minggu sekali, sering ditambah perawatan jenggot, keramas premium, sampai perawatan kulit. Pergeseran ini membuka peluang nyata untuk barbershop dan salon yang mau menggarapnya serius. Artikel ini membahas dari mana peluang grooming pria datang dan langkah konkret untuk menangkapnya, bukan sekadar ikut tren barbershop yang sedang naik.

Ada beberapa hal yang mendorong pergeseran ini. Generasi muda tumbuh dengan media sosial, tempat gaya rambut jadi bagian dari identitas. Budaya barbershop klasik dengan kursi kulit, pomade, dan pijat kepala menaikkan gengsi merawat diri buat pria. Di luar layanan dasar, banyak pria kini terbuka mencoba coloring untuk menutup uban, perawatan wajah, sampai grooming jenggot yang tertata. Pasar men grooming di Indonesia bergerak dari sekadar potong murah ke pengalaman yang mau dibayar lebih.

Peluang paling jelas ada di menu layanan. Di luar potong rambut pria standar, pertimbangkan paket yang khas pria: potong plus cuci dan pijat kepala, grooming jenggot dengan pisau cukur, sampai desain garis rambut. Perawatan seperti hair spa pria dan coloring penyamar uban punya margin bagus. Sebagai gambaran, potong rambut pria berkisar Rp40 ribu sampai Rp80 ribu, paket potong plus jenggot Rp70 ribu sampai Rp130 ribu, dan coloring uban Rp150 ribu sampai Rp350 ribu. Angka ini ilustrasi industri, bukan patokan pasti, tapi menunjukkan bahwa satu pelanggan pria bisa bernilai jauh lebih besar dari sekadar potong dasar.

Tidak perlu menambah semua layanan sekaligus. Mulai dari yang paling diminati dan paling mudah dikuasai tim, biasanya paket potong plus jenggot. Setelah itu berjalan stabil, tambah layanan bermargin lebih tinggi seperti coloring uban atau perawatan kulit kepala. Pantau layanan mana yang paling sering diambil lewat catatan transaksi, lalu perbesar kapasitas di layanan itu. Menambah menu tanpa data hanya membuang stok dan waktu tim untuk layanan yang jarang laku.

Kesalahan umum barbershop baru adalah bersaing di harga. Padahal pelanggan grooming pria mencari konsistensi dan pengalaman, bukan yang termurah. Barber yang sama tiap kunjungan, hasil yang bisa ditebak, dan suasana yang nyaman lebih menahan pelanggan ketimbang diskon. Untuk yang ingin menggarap segmen ini secara serius, halaman solusi untuk barbershop membahas kebutuhan operasional yang khas, dari antrian walk-in sampai pencatatan pendapatan per barber.

Sebagian pemilik memilih membuka konsep khusus pria sepenuhnya, dari interior sampai pilihan layanan. Model ini menarik karena target pasarnya jelas dan mudah dikomunikasikan. Konsep salon khusus pria bisa menonjolkan layanan yang jarang ada di barbershop biasa, seperti facial pria, perawatan kulit kepala, atau grooming lengkap sebelum acara penting. Semakin spesifik posisinya, semakin mudah menarik pelanggan yang memang mencari layanan itu.

Nilai terbesar dari pelanggan pria ada di frekuensi. Pria yang menjaga potongan rapi datang teratur, sering setiap dua sampai tiga minggu. Satu pelanggan setia bisa kembali belasan kali dalam setahun. Di sinilah banyak barbershop kehilangan uang tanpa sadar: tidak ada sistem yang mengingatkan pelanggan untuk kembali. Dengan booking online, pelanggan bisa memesan slot barber favorit kapan saja, dan pengingat otomatis menjaga jadwal kunjungan tetap teratur. Menangkap kunjungan berulang jauh lebih murah daripada terus mencari pelanggan baru.

Semua peluang ini bergantung pada satu hal: barber yang konsisten. Pelanggan pria loyal pada tangan, bukan sekadar nama tempat. Kehilangan barber andalan bisa langsung menurunkan kunjungan. Karena itu, jadwalkan barber favorit secara teratur dan bangun lebih dari satu barber yang mampu memberi hasil setara, supaya salon tidak bergantung pada satu orang. Latih standar yang sama untuk semua, sehingga pelanggan tetap puas siapa pun yang memegang gunting.

Grooming pria adalah bisnis visual. Hasil potongan dan transformasi jenggot sangat cocok dibagikan di Instagram atau TikTok, dan calon pelanggan sering memilih tempat berdasarkan portofolio yang mereka temukan. Konsisten memposting hasil kerja dan membangun brand yang diingat memberi keunggulan yang sulit ditiru pesaing yang hanya mengandalkan lokasi. Tren men grooming masih akan tumbuh seiring makin banyaknya pria yang menganggap perawatan diri sebagai rutinitas, bukan kemewahan. Pemilik yang menyiapkan menu, pengalaman, dan sistem retensi dari sekarang akan lebih siap menikmati pertumbuhannya.

Tim Kasera

Kasera membantu pemilik salon, barbershop, dan spa di Indonesia mengelola bisnis mereka dengan lebih efisien.

Siap modernisasi salon?

Bergabung dengan salon dan barbershop di Indonesia yang berkembang bersama Kasera.

Gratis 14 hari. Tanpa kartu kredit.