Definisi
MDR (Merchant Discount Rate)
MDR (Merchant Discount Rate)
Potongan yang diambil dari nilai setiap transaksi pembayaran digital sebelum dana masuk ke rekening merchant. MDR tidak ditagih terpisah di akhir bulan, melainkan langsung mengurangi jumlah yang cair, sehingga besarnya sering luput dari pembukuan salon.
MDR adalah potongan yang diambil dari nilai setiap transaksi digital sebelum uangnya masuk ke rekening salon. Namanya mengandung kata diskon, tetapi tidak ada diskon untuk siapa pun. Yang terjadi adalah penyedia pembayaran menahan sebagian kecil dari setiap pembayaran sebagai imbalan atas jalur yang dipakai.
Pertanyaan apa itu MDR umumnya muncul pertama kali ketika total penjualan sehari dibandingkan dengan uang yang benar-benar masuk ke rekening. Perbedaan pentingnya dengan biaya usaha lain terletak pada cara penagihannya. Sewa tempat dan langganan internet datang sebagai tagihan yang bisa dibaca, dibandingkan, dan dipertanyakan setiap bulan. MDR tidak pernah menjadi tagihan. Potongannya sudah terjadi sebelum uangnya terlihat, sehingga banyak salon menanggungnya bertahun-tahun tanpa pernah mengetahui angka bulanannya.
Di Mana Potongan Itu Terjadi
Alurnya selalu sama. Pelanggan membayar Rp 200.000, transaksi tercatat penuh sebesar Rp 200.000 di kasir, lalu penyedia pembayaran meneruskan dana ke rekening salon setelah dikurangi MDR. Dengan tarif 0,7 persen, yang cair sekitar Rp 198.600.
Karena itu total penjualan hari itu tidak akan pernah sama persis dengan uang yang masuk ke rekening, dan selisihnya bukan kesalahan pencatatan. Proses pemindahan dananya sendiri diuraikan di settlement QRIS, sementara cara mencocokkan keduanya setiap hari dibahas di rekonsiliasi pembayaran harian.
Tarif MDR di Indonesia
Untuk QRIS, tarifnya ditetapkan Bank Indonesia dan besarnya sama di semua penyedia untuk kategori usaha yang sama. Merchant yang tergolong usaha mikro dikenakan 0,3 persen, dengan 0 persen untuk transaksi di bawah Rp 500.000. Merchant reguler, yaitu usaha kecil sampai besar, dikenakan 0,7 persen. Rincian per kategori dan cara mengetahui kategori sendiri ada di biaya MDR QRIS.
Instrumen lain bekerja dengan aturan yang berbeda. Kartu debit dan kredit lewat mesin EDC umumnya dikenakan tarif lebih tinggi dan besarannya ditetapkan penerbit serta acquirer, bukan satu tarif nasional. Sebagian jalur pembayaran justru memakai biaya tetap per transaksi, bukan persentase, dan virtual account adalah contoh yang paling sering dijumpai salon.
Tarif Persentase dan Biaya Tetap Tidak Sama Mahalnya
Perbedaan ini menentukan jalur pembayaran mana yang sebaiknya ditawarkan untuk layanan yang mana, dan sering terlewat.
Tarif persentase memungut lebih banyak pada transaksi besar. Potong rambut Rp 50.000 dengan tarif 0,7 persen terpotong Rp 350, sedangkan pewarnaan Rp 800.000 dengan tarif yang sama terpotong Rp 5.600.
Biaya tetap bekerja terbalik. Biaya Rp 4.000 per transaksi berarti 8 persen dari potong rambut Rp 50.000, tetapi hanya 0,5 persen dari pewarnaan Rp 800.000.
Kesimpulan praktisnya: jalur berbiaya tetap masuk akal untuk transaksi bernilai besar seperti pewarnaan, smoothing, atau pembelian paket, sedangkan jalur persentase lebih murah untuk layanan harian bernilai kecil. Salon yang layanannya beragam biasanya menyediakan keduanya dan mengarahkan pelanggan sesuai nilai transaksinya, bukan memilih satu untuk semua.
Menghitung Dampaknya per Bulan
Angka per transaksi terlalu kecil untuk menghasilkan keputusan. Angka bulanan yang berguna.
Salon dengan omzet nontunai Rp 40.000.000 sebulan dan tarif 0,7 persen menanggung sekitar Rp 280.000 per bulan, atau sekitar Rp 3.360.000 setahun. Pada kategori usaha mikro dengan tarif 0,3 persen, angkanya sekitar Rp 120.000 per bulan. Untuk menghitung biaya MDR salon sendiri dengan komposisi transaksi yang sebenarnya, gunakan kalkulator biaya QRIS.
Bandingkan hasilnya dengan biaya menerima uang tunai sebelum menyimpulkan bahwa potongan ini mahal. Uang tunai memang tidak berpotongan, tetapi menuntut waktu penghitungan, menanggung risiko selisih kas, dan menyulitkan pencocokan pembukuan.
MDR Ditanggung Merchant, Bukan Pelanggan
Ketentuan Bank Indonesia melarang merchant membebankan MDR kepada pelanggan sebagai biaya tambahan. Menambahkan biaya khusus untuk pembayaran QRIS di struk melanggar ketentuan tersebut, meskipun sering terlihat di lapangan.
Cara yang benar adalah memperlakukan MDR sebagai komponen biaya sejak harga layanan disusun, sama seperti listrik, air, dan bahan habis pakai. Untuk margin tipis, kenaikan harga sebesar satu persen sudah menutup potongan ini dengan sisa, dan penyusunannya dibahas di cara menentukan harga layanan salon.
Yang Sering Dikira MDR Padahal Bukan
Tiga biaya lain kerap tercampur dan membuat perhitungan menjadi keliru. Biaya pemindahan dana ke rekening bank di luar penyedia adalah biaya tersendiri dan bersifat tetap per pencairan. Sewa atau deposit mesin EDC adalah biaya alat, bukan biaya transaksi. Pajak atas penghasilan usaha dihitung dari laba dan tidak ada hubungannya dengan jalur pembayaran.
Membedakan ketiganya penting karena hanya MDR yang bergerak mengikuti omzet. Dua yang lain tetap besarnya meskipun transaksinya bertambah.
Mencatatnya di Pembukuan
Catat pendapatan sebesar nilai penuh transaksi, lalu catat MDR sebagai biaya tersendiri. Mencatat langsung angka bersih yang masuk ke rekening membuat pendapatan layanan terlihat lebih kecil daripada yang sebenarnya, dan angka itu kemudian dipakai untuk menghitung komisi, harga, serta target. Satu baris biaya yang terpisah juga membuat besarnya terlihat setiap bulan, sehingga keputusan tentang jalur pembayaran punya dasar angka.