Musik di Salon: Pilihan Lagu, Volume, dan Urusan Lisensinya
Cara menyusun daftar putar yang cocok dengan jam ramai dan sepi, batas volume yang wajar, serta status lisensi musik untuk tempat usaha.
Tim Kasera
24 Agustus 2026
Poin Penting
- Sediakan satu perangkat khusus atas nama salon untuk memutar musik, dan larang ponsel pribadi tersambung ke speaker ruangan.
- Susun tiga blok playlist saja: tempo lambat di jam sepi, tempo lebih tinggi di jam ramai, dan melambat lagi menjelang tutup.
- Patok volume sekitar 60 sampai 70 desibel di area kerja, ukur setinggi kepala pelanggan yang duduk, lalu tandai posisi tombolnya.
- Memutar musik di ruang pelanggan membawa kewajiban royalti lewat LMKN, dan langganan Spotify atau YouTube pribadi tidak menutupinya.
- Tanyakan kategori dan tarif yang berlaku untuk salon langsung ke LMKN, jangan menyalin angka kategori kafe atau restoran.
Musik di salon bukan latar belakang. Pelanggan yang duduk satu jam di kursi mendengarnya dari awal sampai selesai, dan itu bagian dari layanan yang dibayar sama seperti kursi yang nyaman dan handuk yang bersih. Anehnya, musik hampir selalu menjadi satu-satunya bagian dari ruangan yang tidak pernah diputuskan siapa pun.
Dua masalah muncul dari situ. Pertama, kalau tidak ada yang memutuskan, yang memutuskan adalah siapa pun yang ponselnya tersambung ke speaker hari itu. Kedua, hampir tidak ada pemilik salon yang tahu bahwa memutar musik di ruang pelanggan membawa kewajiban yang diatur undang-undang.
Kendali Musik Perlu Punya Pemilik
Selera berganti tiap shift ketika sumber musiknya ponsel pribadi. Pagi mendayu, siang keras, sore berganti lagi mengikuti siapa yang masuk. Pelanggan tetap yang datang di jam sama tiap minggu akan menemukan ruangan yang terasa berbeda tanpa tahu sebabnya.
Perbaikannya sederhana dan hanya perlu dikerjakan sekali. Sediakan satu perangkat khusus untuk musik, atas nama salon, bukan atas nama orang. Simpan playlist salon yang sudah disusun di perangkat itu dan unduh untuk pemutaran luring, supaya iklan tidak menyela dan koneksi yang putus tidak mematikan ruangan. Masukkan satu baris ke SOP salon tentang siapa yang boleh mengganti playlist dan kapan.
Aturan tambahan yang murah: ponsel pribadi tidak tersambung ke speaker ruangan. Bukan soal kepercayaan, melainkan soal notifikasi dan panggilan masuk yang terdengar seisi salon.
Playlist Mengikuti Jam, Bukan Selera
Ruangan yang sama membutuhkan musik berbeda pada jam berbeda. Susun tiga blok saja, karena lebih dari itu tidak akan dijalankan.
Pagi dan jam sepi memerlukan tempo lambat, sekitar 60 sampai 90 ketukan per menit, banyak instrumental, tanpa lirik yang menarik perhatian. Ini jam pelanggan layanan panjang seperti pewarnaan dan smoothing yang duduk lama dan tidak ingin dipacu.
Jam ramai memerlukan tempo lebih tinggi, sekitar 100 sampai 120 ketukan per menit. Fungsinya dua: ruangan yang penuh terasa hidup, bukan gaduh, dan percakapan antar kursi tidak saling terdengar jelas. Kapan jam ramai itu jatuh berbeda tiap salon, dan pola jam ramai sendiri terbaca dari catatan transaksi, bukan dari perasaan.
Satu jam terakhir sebelum tutup kembali melambat. Tempo yang turun membantu tim menyelesaikan pekerjaan penutupan tanpa terburu-buru.
Volume Diukur dengan Angka, Bukan Perasaan
Ada satu uji yang bisa dipakai siapa saja. Dua orang di kursi yang sama harus bisa bicara dengan suara normal tanpa mencondongkan badan. Kalau perlu mendekat, musiknya terlalu keras.
Patokan angkanya sekitar 60 sampai 70 desibel di area kerja, dan aplikasi pengukur suara gratis di ponsel sudah cukup akurat untuk keperluan ini. Ukur sekali di tiga titik: dekat kursi pertama, dekat kasir, dan di ruang tunggu. Tandai posisi tombol volume yang sesuai, lalu jangan diubah-ubah.
Musik yang terlalu keras memicu lingkaran yang merugikan. Tim bicara lebih keras supaya terdengar, ruangan jadi lebih bising, lalu musik dinaikkan lagi. Pada akhir hari yang paling lelah adalah tim, bukan pelanggan.
Ruang perawatan wajah dan pijat memerlukan sumber suara terpisah dengan volume lebih rendah, sekitar 45 sampai 55 desibel. Musik lantai utama yang merembes ke ruang pijat merusak seluruh alasan pelanggan membayar layanan itu. Pemisahan suara ini sebaiknya diputuskan bersamaan dengan tata ruang dan desain interior salon, karena menambah sekat setelah renovasi selesai jauh lebih mahal.
Lagu yang Menimbulkan Masalah
Beberapa jenis lagu sebaiknya disaring sejak awal. Lirik kasar dan lagu bertema perpisahan yang berat adalah dua yang paling sering menimbulkan kecanggungan. Lagu bertema keagamaan tertentu perlu pertimbangan lebih hati-hati, dan untuk salon muslim pilihan musiknya biasanya sudah dibicarakan sejak awal bersama pemilik.
Permintaan lagu dari pelanggan perlu jawaban yang disiapkan, bukan diimprovisasi. Jawaban yang bekerja di banyak tempat adalah menerima permintaan pada jam sepi ketika pelanggan lain sedikit, dan menahannya pada jam ramai dengan alasan yang jujur bahwa ruangan sedang penuh. Yang menimbulkan masalah adalah tim yang menjawab berbeda-beda.
Lisensi Musik Tempat Usaha yang Sering Dilewati
Bagian ini yang hampir tidak pernah dibahas, padahal tagihannya nyata.
Memutar musik rekaman di ruang pelanggan tergolong pemakaian secara komersial, dan atas pemakaian itu melekat kewajiban royalti. Dasarnya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan tata cara penarikan yang diatur lebih rinci lewat Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021. Penarikan dan penyalurannya dijalankan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional atau LMKN.
Tarifnya ditetapkan per kategori usaha. Daftar kategori dalam aturan itu tidak menyebut salon satu per satu, jadi langkah yang tepat adalah menanyakan kategori dan tarif yang berlaku langsung ke LMKN. Menyalin angka dari kategori kafe atau restoran yang beredar di internet menghasilkan hitungan yang belum tentu benar untuk salon.
Satu hal lagi yang sering disalahpahami: langganan hiburan pribadi tidak menutupi kewajiban ini. Ketentuan layanan Spotify, Apple Music, dan YouTube membatasi pemakaian untuk keperluan pribadi dan bukan komersial, sehingga memutarnya di ruang pelanggan berada di luar ketentuan tersebut. Radio yang dinyalakan di ruang pelanggan berada pada posisi yang sama. Jalan paling sederhana adalah berlangganan layanan musik yang memang dijual untuk tempat usaha, karena izin pemutarannya sudah termasuk di dalam langganan.
Penagihan di lapangan memang belum merata di semua kota, dan royalti musik salon jarang menjadi hal pertama yang ditanyakan petugas. Kewajibannya tetap ada. Anggarkan biayanya bersama pos perizinan lain saat mengurus izin usaha salon, bukan saat tagihannya datang.
Salon yang menyewa unit di dalam pusat perbelanjaan perlu bertanya lebih spesifik. Pengelola gedung umumnya mengurus musik di area bersama, dan itu tidak dengan sendirinya mencakup musik yang diputar di dalam unit penyewa. Perbedaan tanggung jawab semacam ini termasuk hal yang perlu ditanyakan sebelum tanda tangan, seperti dibahas pada salon di mall dibanding ruko.
Perangkat dan Penempatan Speaker
Beberapa speaker kecil yang tersebar hampir selalu terdengar lebih baik daripada satu speaker besar. Suara jadi merata, dan tidak ada pelanggan yang kebetulan duduk tepat di titik paling keras.
Hindari memasang speaker persis di atas kursi kerja. Pelanggan yang kepalanya berada satu meter di bawah speaker mendengar volume yang jauh berbeda dari yang didengar pemilik salon saat berdiri di kasir. Itu sebabnya pengukuran dilakukan setinggi kepala orang yang duduk, bukan setinggi orang berdiri.
Tim Kasera
Kasera membantu pemilik salon, barbershop, dan spa di Indonesia mengelola bisnis mereka dengan lebih efisien.